Jam menunjukkan pukul 6.59 waktu standar Korea. Dalam keadaan masih setengah sadar karena camping 2 hari dan tidak tidur di Pentaport Rock Festival Incheon, tiba2 ada SMS masuk. Agak malas saya menerimanya. Kemarin setelah Simple Plan selesai melantunkan lagu terakhir, hujan turun begitu deras. Panitia mengumumkan bahwa ada kiriman badai dari Korea ke Jepang. Mereka menghimbau semua orang untuk berkemas secepat mungkin dan meninggalkan camping ground, entah kemana. Semua orang exodus dalam hujan deras, termasuk rombongan saya yang memilih mencari taksi menuju asrama harian terdekat.
Ah cukup sudah intermezzo-nya. Bis melaju pelan entah kenapa, saya jadi susah tidur, dan tertarik membaca SMS yg masuk. Ternyata dari pacar, dan di excerpt message tertulis “bun..mami…” Deg. Jantung berdegup. Langsung saya buka SMS nya. Ternyata benar berita dukacita. Mami Kantin, mami yang kami semua sayangi dan menyayangi kita semua itu, sudah meninggal dengan tenang, baru saja.
Mami, mami. Mami yang selalu menyapa kami dengan senyuman dan candaan, sejak jaman SMA, “Halo anakku kok lagi nongol dino iki” dan “Lho anakku ngopo mrene yah mene? Mbolos meneh yooo? Takkethaki lho kowe!”
Ibu kedua semasa SMA
Bagi kami anak2 SMA 3 Padmanaba Jogja, Mami Kantin bukan sekedar penjual es jeruk di kantin. She’s more than that.
Sejak tahun 2007 lalu setelah Mami didiagnosa menderita kanker, kita anak2 SMA 3 sering saling memberi pengumuman dan menggalang dana untuk biaya pengobatan beliau. Walaupun insidental dan naik-turun, kita yang sebenarnya masih harus berjuang menghidupi diri sendiri ini mencoba membantu dengan keterbatasan yang ada. Seringkali wall FB kami penuh dengan isi serupa ketika ada kejadian penting, sehingga teman-teman kuliah saya yang non-Padmanaba yang membaca FB saya seringkali heran dan menanyakan, “Eh kok lu keknya pada cinta bgt sm yg mami kantin mami kantin itu? Emang dia ngapain aja di sekolah lu dulu? Care banget gitu kalian.”
Ngapain aja? Hmmm…. pertanyaan yang susah dicari jawabannya namun sekaligus banyak sekali jawabannya.
Buat kami-kami yang masih bau kencur di SMA dulu, yang masih mencari jati diri dan sering ditimpa masalah (yg dibuat kami sendiri -_-), melarikan diri adalah salah satu solusi. Dan di sekolah yang berisi ribuan peraturan dan norma yang terkadang memenjara, kami mencoba melarikan diri ke tempat2 yang mau menerima kami kapanpun bahkan saat membolos jam sekolah. Salah satu tempat tersebut adalah kantin, dan di situlah kedekatan kami dengan Mami dimulai.
Mami mau menerima kami dengan semua permasalahan kami, terkadang mendengarkan curhatan, apapun, dari masalah keluarga, percintaan, pertemanan, hingga masalah kesiswaan dan pelajaran.
Masalah percintaan adalah topik favorit dalam curhat ke Mami, terutama bagi kalangan wanita. Curhat ke Mami benar2 nyaman karena Mami mau mendengarkan dengan sabar, tanpa menghakimi dan menggurui. Mami hanya sesekali menceletukkan hal-hal simpel yang walaupun itu adalah intinya, seringkali kami lupakan karena emosi dan ego, seperti, “Yowis to le, nek cen jodho ra bakal nandi2, rasah abot2 digawe stres,” “Ealah nduk ngopo dipikiri nek wis rampung yowis sih akeh sing liyane,” “Yowis ndonga wae sopo reti dadi tenang,” dan “Mesakke banget to anakkuuu, kene nduk peluk sik ro Mami.”
Bagi anak2 yang mengalami masalah keluarga, Mami benar2 memberi apa yang mereka butuhkan: kesediaan untuk mendengarkan dan pengertian. Saya tidak akan berkata bahwa saya mengalami masalah keluarga. Saya sungguh bahagia bahwa saya tidak mengalami masalah keluarga di rumah, namun beberapa teman saya mengalaminya, dan Mami mau menerima mereka apa adanya, mendengarkan keluh kesah yang mungkin absurd bagi sebagian orang tua dengan sabar.
Mami bahkan mau menampung orang2 yang melarikan diri dari rumahnya ke tempat Mami. I know 1 or 2 ungrateful bastards who ran away from their homes to Mami’s place. Kebanyakan karena alasan bodoh dan absurd. Kalau saya adalah Mami, saya tidak akan menampungnya karena alasannya benar2 aneh. Tapi Mami tidak. Beliau membuka pintu rumahnya dan mengizinkan mereka tinggal di situ.
Now some of you will think that she’s somebody who protects some bad kids, but I will tell you that you’re wrong. Totally wrong.
Teman saya si B yang sempat berantem hebat dengan orangtuanya dan kabur dari rumah ke tempat Mami, bercerita bahwa Mami dan Babeh (suaminya) tidak pernah menasehati panjang lebar seperti orangtua dan guru pada umumnya. Mereka menerimanya, memberi makan dan tempat tidur dan hanya sesekali mengatakan hal2 yang simpel, “Wis to le bali ngomah, mosok ra kangen wong tuwo,” “Wis to le, coba ngomong apik2, ojo nesu2 terus.” That’s it. Tanpa penjelasan panjang lebar. Dan memang itu yang penting, namun terkadang kita tidak mau mendengarnya karena ego kita yang besar. Namun karena Mami mengatakannya dengan sabar dan tidak memaksa, akhirnya mereka bilang, “Iyo yo.”
Biasanya those ungrateful bastards pulang ke rumah setelah 1-2 minggu dengan keadaan yang jauh lebih tenang.
Kebaikan Mami tidak berhenti sampai di situ. Sampai setelah lulus SMA pun Mami masih baik kepada kita, kalau kita datang setelah sekian lama menghilang, beliau tetap menyambut kami, “Halo anakku pie kabare,” atau “Eeeh cah baguuus, kapan tekan Jogja.”
Ibu Kedua Bahkan Setelah Lulus
Setelah lulus beliau tetap baik kepada kami, bahkan seringkali menyuruh kami mengambil minuman (dan makanan) dengan gratis, walaupun kami tidak pernah mau melakukannya. Rumah Mami baik yang di Jogja maupun Gunung Kidul juga senantiasa menjadi tempat reuni dan berkumpul mengenang masa SMA.
Mami masih mau kita satroni dan kita curhati setelah lulus, dan masih dengan pengertian yang luar biasa. Saya tahu teman saya si C yang waktu itu ingin menjalin hubungan dengan orang yang “berbeda prinsip”. Di saat hal ini pasti ditentang sebagian besar orang tua, hanya Mami yang dengan penuh pengertian berkata, “Yowis lah rapopo, nek cen jodho kan ono dalane mengko.” Sebuah prinsip yang seharusnya sangat mendasar, dan murni berdasarkan perasaan yang tulus. Beliau bahkan bilang, “Tur aku wegah lho nek ngko njuk do putus2 ngono.” Ah, benar2 seseorang yang selalu pengertian dan suportif.
Ah, Mami… Mami. Mami yang karena sudah sangat dekat dengan anak-anaknya bisa dengan santainya menyapa kami dengan agak usil seperti, “Walah lagi teko iki mesti wingi bar c*l* wae!” dan kita tetap menyambut sapaan itu dengan senyum tanpa perasaan risih karena kami tahu beliau sangat sayang kepada anak-anaknya.
2 halaman A4 tidak akan cukup untuk menuliskan semuanya tentang Mami. Well, maaf Mi, karena saya lagi nggak bisa pulang ke Jogja, hanya ini satu-satunya yang dapat saya berikan buat Mami. Sebuah wacana di mana orang-orang dapat mengingat dan mengenang kembali hidup Mami dan semangat Mami, maaf ya kalau kurang berkenan Mi, sudah saya coba sebaik mungkin.
Bagi kalian yang mengharapkan saya menceritakan bagaimana meninggalnya, maaf saya telah mengecewakan kalian. Saya lebih menyukai mengingat hidup dan semangat hidupnya daripada menceritakan meninggalnya
Terimakasih Mami, sumber inspirasi saya dalam kesabaran dan pengertian. Semoga bahagia di sisi-Nya. Mami sekarang sudah tidak sakit lagi
Sekali lagi terimakasih.
P.S.: Terimakasih kepada teman saya B dan C yang memberi inspirasi tulisan ini. They know who they are.




Selamat jalan Mami tercinta, doaku besertamu. Kasih sayang, canda dan ceriamu selalu terkenang. Ah, seperti baru kemarin saja aku lulus dari almamater padmanaba. Semoga Mami bahagia dan tenang di surga, karena aku percaya Tuhan Mahakasih, jauh melebihi kasih sayang Mami kepada kami, siswa-siswi padmanaba.
@Sastro: artikel yang bagus, Sob.
Semoga semua amal ibadah dan kebaikan Mami diterima di sisi-Nya ya.. amin..

Jalan yang terbaik untuk Mami tidak ada yang tau kecuali Tuhan, Dia tau pasti apa yang terbaik buat makhlukNya..
meski masih sedih..
@Sastro
kangeeeeenn bgt begitu masuk rumah dan kamarnya ternyata uda kosong..
Agree with you,sas. Banyak teman2 kantor atau kampus yg nanya: “Is she that important?”. Banyak orang yg tidak seberuntung kita di Padmanaba yg memiliki sosok ibu kedua seperti mami. Cheerful person until the last time she had. Miss mami a lot, regret that I don’t have enough time to spend with her recently.
It`s kinda hard you know…..especially for the guy who used to “share the same frame” with Her.
It`s kinda hard you know….especially for the guy who “Used to share the same frame with Her”
Beliau melanjutkan perjalanannya…
huuaaaaa… Sastrooo… kamu bikin aku nangis lagi kan… huhu… ngerasa kehilangan banget sama mami!!! T________T
@coro : amin dan terimakasih



@bulat : amin. Iya aku juga kangen. kan aku dulu bilang pengen ktemu lagi pas pulang lagi
@ina : iya,, masih bisa bercanda dan manggil Yhonas Cino kuwi
@anggas : yeah, right. well you can still share the same frame with her. by keeping her spirit alive
@firda : waduh maaf fir,, lha ini satu2nya yg bisa aku kasih buat mami je,,,, yah kalo gitu mari kita inget2 teladannya lagi saja
[...] berikan bisa menjadi pondasi yang kokoh bagiku dalam menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. Selamat Jalan Mami Kantin SMA 3 Yogyakarta. Terima [...]
mami is the best semangat dan perjuangan nya lah untuk bertahan , good luck mom you all the best
well .. i do not even know your “mami kantin” and don’t even know you guys also … but this is the proof that maybe we can not be great or do great things …. but yes ,,, we can do small things with great love and honesty ….
and for me this is not a sad things to regret … but good and great things to remember and keep the spirit alive …. Be Good all of You Guys ….