Oleh : Fajar Sastrowijoyo
Keyword : Permasalahan Pendidikan
Tulisan ini sebenarnya dibuat karena saya mendapat info akan ada suatu lomba menulis tentang pendidikan Korea dan Indonesia, tapi saya lupa melihat batas waktu dan ternyata terlambat. Daripada mubazir, saya posting saja di sini
Saya sudah tinggal di Korea selama lebih dari 1 tahun, dan dari pengamatan saya terhadap sistem pendidikan Korea, ada banyak hal yang menurut saya menimbulkan problem dan masalah tapi masih diterapkan dalam pendidikan Korea. And believe it or not, saya menjumpai bahwa masyarakat kita (Indonesia) juga mulai mengarah ke situ perlahan-lahan. dan Kita langsung mulai dari :
Cram school
Pernahkah Anda diberi beban belajar yang sangat banyak dengan waktu yang sangat singkat untuk menguasainya sehingga membuat anda berpikir tidak mungkin mencoba mengerti semuanya dalam waktu singkat dan berkata, “F*** this, this is too much, OK I’ll not try to understand and I’ll just memorize.”
I think there’s one point in our life when we think like that, except you’re a genius, an idealist, or you never study math.
This phenomenon is so serious in Korea, with an ever increasing demand of knowledge absorption. Mereka menghafal rumus2 dari yang mudah sampai yang susah sekalipun. Ujian nasional (수능시험) yang menanyakan terlalu banyak pertanyaan dalam sedikit waktu memaksa mereka mengerjakan semua soal secepat mungkin.
Menghafal rumus adalah salah satu trait penting di sini menuju sukses ujian nasional. Mungkin menghafal beberapa rumus sederhana tidak menjadi masalah, namun mereka juga menghafal rumus2 penurunan; kebiasaan ini berlangsung sampai universitas juga. Beberapa teman saya di kampus sampai menghafal freakin’ Laplace and Z transform tables!!! If you’re not an engineering student, I’ll tell you, that thing is the basis of many engineering fields and is freakin’ difficult if you try to memorize.
Mereka menghafalnya karena mereka tidak punya cukup waktu untuk mengerti konsep tersebut karena beban belajar mereka terlalu berat. Namun dengan menghafal, mereka tidak mengerti konsepnya sehingga ketika dihadapkan pada permasalahan lain yang konsepnya sama, mereka tidak dapat menyelesaikannya.
Now if you tell me this doesn’t ring a bell or this isn’t happening in Indonesia, I’ll ask you where you live this past 10 years. Permasalahan pemahaman konsep yang sedikit banyak disebabkan oleh penghafalan mati tanpa pemahaman begitu serius di Indonesia sampai universitas tempat saya belajar dulu mengalokasikan waktu 1 tahun penuh untuk mengulang pelajaran SMA dengan cara pengajaran yang seharusnya sebelum mahasiswa masuk ke dunia universitas yang sesungguhnya agar kami paham. Thanks for that, Ganesha ^^
Overstudying
Again, this is caused by expecting children to absorb too many materials.
Dengan beban belajar yang sangat banyak, muncullah bimbel2 (학원:hagwon) di Korea yang dalam promosinya menawarkan peningkatan kemampuan dalam waktu singkat dengan cara memberi bermacam2 solusi cepat dan solusi cepat menghafal (sounds familiar?).
Bagi yang merasa bahwa bimbel2 di Indonesia sudah terlalu menyimpang dari tujuan pendidikan yang sebenarnya, meet Korean after school class.

Bagi yang tidak mengerti bahasa Korea, gambar tersebut adalah jadwal dari sebuah bimbel di Korea untuk anak SMP dan SMA, courtesy of James Turnbull. Hal pertama yang Anda baca pasti waktu nya, dan jika Anda mengira itu pagi hari (AM), Anda SALAH.
Those times are during PM, means the last class finished 20 minutes after midnight.
Detail dari waktunya adalah :
- Anak berumur 13 dan 14 tahun mulai kelas pada pukul 5:50, mengambil dua kelas 60 menit dan satu 70 menit dan pulang ke rumah jam 9:30. Sesampai di rumah, mereka masih harus mengerjakan PR dari sekolah dan dari bimbel.
- Anak usia 15 tahun mulai pada pukul 7:06, mengambil satu kelas 60 menit dan dua 70 menit, selesai pada pukul 10:55 and getting a hell lot of homework to do.
- 16 year-olds, 17 year-olds, 18 year-olds, now at high school, start at 9:45pm, have two 70 minute classes and finish at 12:20am, then have even more homework to do.
- Dan ada kelas Sabtu, dan ini dilakukan walaupun beberapa sekolah memberlakukan setengah hari masuk untuk siswa. So basically there’s no Saturday break. And for education hungry mothers, they will send them to Sunday school as well.
Silakan terkejut dan kesal dan marah dan berteriak-teriak tentang child abuse. This is normal in Korea. Anak umur 13 tahun mungkin tidur tengah malam dan bangun jam 7 pagi keesokan harinya? Normal. Di Korea, jika Anda tidak mengikuti hagwon, Anda akan dianggap bodoh atau aneh. On top of that, these hagwons spend 4% of NATIONAL GDP every year. Yeah. Bimbel menghabiskan 4% dari PDB Korea.
Hal yang baik adalah, hampir semua orangtua sebenarnya tidak suka mengirim anak2 SMP sampai larut malam, namun mereka dipaksa oleh tuntutan dari sistem pendidikan nasional yang terus meningkat.
This thing reminds me that in Indonesia, nowadays parents send their children to so many extra lessons sejak mereka dapat berjalan. Dan itu dilakukan dengan keinginan sendiri tanpa tuntutan dari pihak manapun. Mereka mengirim anak2nya dengan keinginan sendiri. Saya ada beberapa kenalan dan saudara yang mengirim anak2 usia TK ke berbagai macam pelajaran ekstra seperti bahasa Inggris, Mandarin, biola, menyanyi, beladiri, piano, balet, dan mungkin piano sambil balet. When can they play like a normal child????
Stereotipe Bidang Studi / Jurusan
Sama seperti di Indonesia, Korean parents and teachers biasanya mendorong anak-anak mereka untuk menjadi seorang dokter atau insinyur dari kecil. Status sosial dan uang biasanya menjadi alasannya. Dorongan tersebut sangat kuat di sini sampai semua orang akan berdecak kagum apabila pacar Anda adalah seorang insinyur/dokter. Hal ini disebabkan oleh dorongan terus menerus dari guru-guru dan masyarakat.
Di Korea hal ini sudah sangat lazim dan terkadang mereka tidak merasa bahwa hal ini adalah sesuatu yang aneh dan seharusnya tidak terjadi. Beberapa teman Korea saya bahkan mengatakan bahwa memang dia tidak bisa mengikuti impiannya, tapi mungkin seharusnya tidak usah dilakukan sama sekali. Mereka juga akan mendorong anak-anaknya untuk mengambil bidang2 yang berstatus sosial tinggi dan menghasilkan banyak uang.
Menurut saya ini sebuah tindakan yang kurang baik. Coba bayangkan apa yang terjadi apabila orang tua Valentino Rossi menyuruhnya menjadi dokter, atau orang tua Mozart menyuruhnya menjadi insinyur. Bayangkan kekacauan besar yang terjadi.
Children should be able to choose their own interests and passion. Only then they will utilize their ability fully. Well, saya yakin banyak yang setuju dengan hal ini sekarang, Tetapi mungkin tidak ketika kita nanti sudah menjadi orangtua atau pengajar. Let’s see how many of us force our children to be engineers and doctors later.
Over-education
This problem might be bigger than the others. Korea Selatan telah menjelma menjadi sebuah negara maju, dan hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh keinginan belajar di jenjang yang lebih tinggi setinggi mungkin. Namun hal ini telah menjelma menjadi sesuatu yang sedikit mengerikan.
Menurut sebuah survei, 82% penduduk Korea Selatan mengikuti tertiary education (universitas, college, dll). Mungkin beberapa dari kita berpikir ini adalah hal yang baik. Namun ternyata ada efek domino yang lebih parah dari hal ini.
Dalam artikelnya, Oliver dan Kang[2] menggambarkan bahwa Korea Selatan mempunyai tukang roti yang paling terpelajar di dunia. Di sebuah kelas keterampilan membuat roti di Seoul yang mengajarkan pembuatan muffin, ada lulusan bahasa Rusia, seni, bahkan animasi. Mereka terpaksa mengikuti kelas keterampilan karena tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka. Setelah mereka menjadi tukang roti, hilanglah sudah uang yang mereka pernah hamburkan untuk pendidikan S1 mereka.
Still don’t get the picture? Bayangkan sebuah dunia di mana Anda harus mempelajari integral kompleks dan mekanika kuantum untuk menjadi pekerja tambang batu bara. Imagine the money that should be well spent on something else than the needless education too.
Indonesia belum mencapai taraf tersebut, namun jika kita jeli melihat berita, kita akan tahu bahwa kita memiliki lulusan S1 lebih banyak daripada D3, dan bahwa lebih banyak lulusan S1 kita yang menganggur dibandingkan dengan lulusan diploma karena tidak dapat menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Yang paling parah, rasio lulusan SMA dan SMK adalah 50:50!! This means we have more thinkers than workers! Totally wrong! Ini adalah hal yang sangat buruk bagi sebuah negara berkembang, yang masih membutuhkan banyak sekali tenaga kasar.
Dibandingkan dengan Korea Selatan yang sekarang sudah maju dan menjadi negara kaya yang melakukan berbagai macam pekerjaan kasar dengan otomatisasi (baca:robot), Indonesia masih membutuhkan jutaan tenaga kerja kasar untuk menunjang industri padat karya nya, dan kurang membutuhkan lulusan S1, terutama di bidang2 “yang tidak terlalu menghasilkan”, because, hey, we don’t have enough money!!!
Sangat jelas bahwa dengan uang yang sedikit, pemerintah akan menggunakannya dengan hati2 untuk memberi modal kepada perusahaan, pabrik atau konstruksi fisik, not on research, especially not-generating-money research. Padahal kita tahu bahwa pekerjaan yang paling mungkin bagi bidang seperti filsafat, sejarah, seni, antropologi dll adalah menjadi researcher, atau dosen. Itulah sebabnya di negara2 maju bidang2 tersebut tetap menghasilkan, karena mereka punya dana ekstra yang dapat dikucurkan ke bidang2 tersebut.
Sepertinya tidak semua orang mengerti bahwa tidak semua orang ditakdirkan menjadi Einstein atau Habibie atau Chairil Anwar. Kalau sebuah negara mempunyai Einstein dan Habibie lebih banyak daripada Tono, Tini dan Budi, negara itu pasti hancur.
Namun dengan stereotype yang berkembang saat ini bahwa sebisa mungkin kita harus menjadi sarjana S1, entah apapun bidangnya, bukan tidak mungkin kita suatu saat akan mempekerjakan lulusan Sastra Bahasa Alien sebagai tenaga kasar di pembangunan jalan tol.
SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL!!! \^^/
Fajar Sastrowijoyo
CBNU, Korea
Alumni Elektro ITB
Sumber:
[2] C. Oliver, B. Kang, “S Korea faces problem of ‘over-education’,” www.ft.com
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_South_Korea
[4] http://internasional.kompas.com/read/2010/09/23/16473632/1.142.751.Sarjana.Siap.Jadi.Penganggur
[5] http://www.diknas.go.id/downloadx/1257487795.pdf
[6] http://www.kemdiknas.go.id/media/213881/index_pt_0809.pdf






sebenernya, pendidikan korea mulai kayak gitu sejak kapan mas? soalnya, korea kan berkembang pesat banget. jadi perlu ditanya, apakah materi seabrek itu adalah bekal kesuksesan mereka apa ngga. kalau memang iya, brarti indonesia memang harus banyak mencontoh mereka. yaa, walaupun kayaknya nggak. kayaknya
saya sekarang kelas 3 SMA mas, Padmanaba juga. di mata saya, dibanding materi sekitar 5 taun ke atas yang lalu, sebetulnya materi kita bisa dibilang lebih ringan. selain materinya memang udah dikurangi, pembahasannya kadang juga nggak terlalu detail. tapi parahnya, kita juga tetep kebut semalam mas. mungkin karena pada dasarnya kita nggak punya pemahaman kuat jadi semuanya serba dihapal. bisa disimpulkan, banyak/sedikit materi sebenernya bukan jadi masalah utama. yang penting paham/nggaknya kita. setidaknya itu yg saya simpulkan selama 3 taun penuh sks haha
pernah, dulu ada student exchange dari aussie dateng ke sekolah. dan yang bikin saya kaget adalah materi pelajaran mereka. njeglek banget. ketika saya pusing utek2 materi rumus abc, mereka cuma nentuin mana yang lebih besar antara dua pecahan. mungkin itu cuma sebagian kecil dari pelajaran mereka, tapi itu dah bikin saya syok. itu brarti materi mereka memang lebih sedikit tapi jagoan smua alias paham. kalo kita? anggap saja ini keberuntungan jadi anak indonesia.
salam kenal, anin
Hmmm Korea dari dulu udah begitu. Dan di awalnya sih gak masalah karena yang kayak gini bikin perkembangan iptek mereka cepet. Tapi sekarang udah mulai over capacity.
Kalo masalah materi seabrek, itu akan jadi berguna dan baik sekali bagi orang2 yang cukup pinter karena mereka bakal fully utilize kemampuannya. Tapi akan menjadi beban bagi yang kurang pintar dan hasilnya malah contek2an. Coba liat web nya James Turnbull itu hoho. Malah jadi gak ada manfaatnya kan?
memang di negara2 Asia rata2 pendidikan kayak gini. Ini yg gw gak tau kenapa hahahaha
mungkin karena situasi mas. kalo dulu, korea kan negara miskin, jadi motivasi mereka lebih besar. beda sama sekarang yang semua serba ada. tinggal menikmati. sama aja kayak indonesia.
karena sejarah kali mas. umur negara asia blm setua negara benua lain. mayoritas dijajah lagi. jadi kita lebih banyak menerima kebudayaan mereka yg blm tentu bener buat kita daripada ngrancang sendiri haha
eh sistem pendidikan di asia beda banget lho sama barat,, jd gak bisa juga kita bilang menerima kebudayaan mereka,, beda banget gitu. di barat kan bebas bgt mo milih pelajaran
wow.. baru tau, ternyata di korea lebih frik lagi dari idonesia. melihat jadwal bimbel, tukang roti terpandai di dunia.
saya setuju dengan efek cram school, jujur saya juga sempat mengalaminya. bahkan sampai saat saya sudah di tingkat 2 perkulihan. ketika menginjakkan kaki di tk 3 dan 4 dimana harus menyusun TA disitu mulai terasa efeknya. Gw harus belajar ulang mengenai konsep konsep dasar agar dapat mengerti problem yang lebih besar.
Jika membandingkan dengan pedidikan barat, mereka lebih fokus pada disiplin ilmu tertentu yang kemudian akan dia geluti ketika sudah lulus nanti. tapi menurut saya hal tersebut belum dapat diterapkan di Indonesia mengingat lapangan pekerjaan belum banyak variasi dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.
salam kenal mas,
wah memang di dunia ini terlalu banyak yang harus diketahui tapi tidak semuanya perlu diketahui. kok kalimat saya jadi terlihat paradoks gini. ==’ btw, asia memang bukannya terkenal karena model-model giniannya ya kalau dilihat dari kacamata barat? dan untuk pros cons sih saya tidak terlalu tahu efek persisnya untuk 10 atau 20 tahun ke depan, apakah banyak baiknya atau buruknya. mengingat pengayaan teknologi ataupun masalah sosial semakin eksponensial di tahun-tahun belakangan ini. jadi, yah, semoga saja dengan ini anak-anak jadi lebih terbiasa dan nggak kaget menghadapi hal-hal baru dan banyak dan intens, walau mungkin sebagian memiliki cara menghadapi yang kurang tepat.
Saya juga mengalami satu tahun pengulangan materi SMA di perguruan tinggi. Alhamdulillah akhirnya jadi jauh lebih ngerti karena saya memang orang yang suka belajar, bukan menghafal atau mencara jalan singkat, insya Allah. Tapi pengulangan materi SMA dalam satu tahun berat juga lho, 3 tahun dalam 1 tahun… Sebagai akibatnya jadi banyak bimbel perguruan tinggi untuk ngadepin itu, terutama karena mahasiswa baru kan pada bekas2 cara belajar SMA. Dosen2 n guru2 SMA saya anti banget tuh n sangat2 sensi ma bimbel Xp
@agipras : iya sih, memang rata2 begini. tapi sekarang KorSel adalah negara yang paling tinggi persentase bunuh diri gara2 beginian nya. Jadi ya mungkin memang ada yang harus dibenahi. Menurut saya yang paling parah sebenarnya adalah kita disuruh mengerti semua pelajaran, padahal seharusnya kalau pengen belajar A ya ga usah dikasi pelajaran B yang mungkin jauh banget dan ga nyambung.
@sabhrina : hehe iya tapi memang ga ada cara lain lagi,, apa mau diulang 3 tahun lagi hahaha iya sekarang bimbel begituan mulai muncul haha lama2 ada bimbel bwt kuliah tingkat 2 ke atas juga nih
Cyaaaaaaaa.. Sastro serius! tumben :p… hmmm setuju2… kalau yang aku rasain di singapur, beban pendidikan juga bueerraaatttttt,, materinya sangat banyak dan waktunya kurang buat mempelajari semua materi. Tapi untungnya gak sampe disuruh ngapalin Z transform table lah.. gile kalau itu sih hahaha
Wah rame juga. Saya tertarik dengan komentar mengenai TPB-ITB, kebetulan pas di kalangan dosen juga sedang ada diskusi tentang masa depan TPB ITB
halo pak waskita. terimakasih sudah mampir ^^ ada polemik apa Pak tentang TPB-ITB? kalau tidak diadakan kasihan yang masuknya beruntung kyk saya ini,, kalau buat yang jenius2 sih nggak masalah kayaknya =D
Rencananya mau bakal dikaji untung-ruginya. Di satu sisi, perlu untuk ‘menuntaskan’ pengajaran di SMA/SMU. Di sisi lain, adanya TPB mengurangi waktu yang dapat dipakai untuk menyampaikan ilmu engineering. Kalau 4 tahun kuliah, 1 tahun dipakai TPB, artinya cuma ada sisa waktu 3 tahun. Padahal ada beberapa ilmu yang susah untuk disampaikan dalam 3 tahun, karena ada prasyaratnya.
wah ikut komen ah: Sistem pendidikan di korea saya rasa lebih kepada law of enforcement,, tadi malam saya barusan ngobrol dengan teman egypt,, pikiran kami sama bahwa budaya forcing sampai saat ini begitu kental,, baik senior ke yunior,, maupun hal-hal sepele lainnya,, mereka tidak dilatih untuk berinisiatif,,,, tetapi ada hal positif dari sana bahwa mereka bekerja pada direction yang sama,, dengan satu imam,, katakan professor,,, maka efisiensi waktu terjadi dengan selesainya suatu pekerjaan ke pekerjaan lain,, karena di indonesia,, mungkin mereka pintar2 tetapi focus untuk penyelesaian pekerjaan kadang malah kurang…..
oke gitu dulu mbak,,, mau kerja dulu ini… hehehe
wah ikut komen ah: Sistem pendidikan di korea saya rasa lebih kepada law of enforcement,, tadi malam saya barusan ngobrol dengan teman egypt,, pikiran kami sama bahwa budaya forcing sampai saat ini begitu kental,, baik senior ke yunior,, maupun hal-hal sepele lainnya,, mereka tidak dilatih untuk berinisiatif,,,, tetapi ada hal positif dari sana bahwa mereka bekerja pada direction yang sama,, dengan satu imam,, katakan professor,,, maka efisiensi waktu terjadi dengan selesainya suatu pekerjaan ke pekerjaan lain,, karena di indonesia,, mungkin mereka pintar2 tetapi focus untuk penyelesaian pekerjaan kadang malah kurang…..
oke gitu dulu mbak,,, mau kerja dulu ini… hehehe
Numpang komen mas,
Kurang setuju ma pernyataan bangsa indonesia lebih membutuhkan worker daripada thinker,
Menurut saya yang perlu diubah itu sekarang cara berpikir, bahwa tujuan lulusan S1 bukan hanya sekedar mencari kerja, tetapi juga membuat lapangan pekerjaan. Kan mereka seorang thinker, sudah sepatutnya dengan kemampuan pikiran mereka itu dapat memikirkan bagaimana caranya membuka lapangan perkerjaan.
Tp ini cuma pemikiran aja lo..orang saya aja belum melakukannya kok
Super setuju! Eh, setuju ama apa ya? Hahaha.
Ya gw juga berpikiran sama sih, bahwasanya terlalu banyak pelajaran yang dibebankan kepada pelajar di Indonesia (dan Korea Selatan ya sepertinya). Dan yang penting-penting itu justru, kata gw, ga nyampe setengahnya. Dengan sistem yang seperti ini, ga heran klo soal ujian biasanya dibagi dua tipe: hafalan dan hitungan. Padahal soal yang keluar itu harusnya tipe pemahaman.
Sampe sekarang gw ga ngerti kenapa ada yang namanya pelajaran PPKn ama Agama di sekolah. IMO, itu ga perlu. Toh sampe sekarang ga ada efeknya di Indonesia. Gw cukup salut dengan SMA gw dulu, karena pas angkatan gw, penentuan jurusan IPA/IPS diberatkan kepada minat. Alhasil, kelas IPS angkatan gw dulu cuma 1 dari total 8 kelas.
Kerasa banget koq sekarang. Gw berasa rugi gitu belajar PLKJ, PPKn, Agama, Sejarah, Bahasa Jerman, Bahasa Prancis (dua bahasa ini sempet wajib gitu di SMA gw), Ekonomi, dll. Toh akhirnya gw ga butuh apa2 gitu dari materi pelajaran itu sekarang.
Menurut lo banyakan efek negatif atau positifnya dari kasus korea ini?
Karena ga bisa dipungkirin Pendidikan (plus dana hibah dari US) yang bisa bikin ekonomi dan teknologi korea meningkat drastis sejak perang korea tahun 50-an. Termasuk kemampuan mereka untuk leapfrog dan menyaingi US dalam hal paten rights.
Walau emang efek sampingnya sekarang mengerikan seperti yang dijelaskan diatas, tapi lebih baik mana ya menjadi negara maju dalam waktu 20 tahun dengan GDP/cap lebih dari 20 ribu US, atau menjadi negara dengan GDP/Cap 3000 US dengan kondisi kemakmuran yang jauh dibawah Korea?
Any thoughts?
Btw, great blog and nicely written..I think from now I’ll read more of your blog
SEPAKAT, tulisan bagus!! hmm, saya pikir ini cuma terjadi di negara kita. ternyata ada juga di negara lain…… dan saya pikir ini adalah hal yang menjengkelkan, dimana sistem pendidikan yang memberikan standar standar tertentu yang sering kali tidak perlu bagi kita, padahal sebenarnya tidak diperlukan. pelajaran/mata kuliah terlalu banyak, tapi ga mendalam.
terus terang sistem pendidikan seperti ini membuat saya sedikit depresi dan hilang arah (benar yang anda bilang, kita belajar untuk hal yang kita tidak akan lakukan)….
jadi, sebaiknya apa yang harus kita lakukan???
Nice share..
Saya guru saya jg memahami hal tsb..
Sharusnya s’sorg d tempatkan sesuai minta dan bakat..
Tdk hanya siswa yg ksulitan kami gurupun mjd sulit dan tertekan pada tuntutan pdidikan..
Pkerjaan jd jauh sgt tidak efisien..
Nice share..
Saya guru saya jg memahami hal tsb..
Sharusnya s’sorg d tempatkan sesuai minta dan bakat..
Tdk hanya siswa yg ksulitan kami gurupun mjd sulit dan tertekan pada tuntutan pdidikan..
Pkerjaan jd jauh sgt tidak efisien.
Menurut saya sistem pendidikan di Korea sangat bagus yaa, sesuai dengan kepribadian warganya yang tekun dan giat..
saya justru pengen banget kuliah di Korea Selatan. Mangkanya saya banyak cari info dari Korea Tourism Organization Indonesia karena mereka memberikan info tentang program belajar di Korea juga..
salam blogwalking Makanan Khas Korea Selatan